Mengalahkan Rasa Malas Untuk Berkembang

Posted by on Jul 12, 2013 in Mindset | 0 comments

Di saat bisnis mulai berkembang, ada 2 pilihan : tetap seperti kondisi sekarang, atau perlu merombak lebih baik lagi.

Saya mengilustrasikan ada sebuah toko aksesoris handphone. Saya sering lewat depan toko tersebut. Yang saya sedikit kaget adalah kini toko tersebut lebih besar dan lebih ramai. Padahal beberapa bulan yang lalu masih kecil dan sepi.

Mau berkembang atau menambah kapasitas adalah tergantung dari keinginan dan kesiapan pengusahanya. Kalau modal sudah siap, management sudah bagus, maka mau berkembang seberapa besarpun akan bisa.

Masalahnya kini adalah terkadang rasa ingin berkembang itu tidak ada. Padahal omset sudah mulai naik, bisnis sudah mulai dikenal luas, dan permintaan penawaran dari berbagai pihak mulai berdatangan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, maka sebagai pengusaha harus :
1. Mencari terus inspirasi dan alasan kenapa dia harus terus berkembang
2. Menambah pengetahuan tentang bisnis sejenis, bisa dengan belajar dari pesaing yang sudah lebih dulu besar
3. Mengalahkan rasa takut dan kuatir yang ada dalam diri. Ketakutan dan kekuatiran sering menjadi sebuah mental blocking akibat ketidaktahuan dan kekurangberanian.
4. Mau berkembang berarti harus berani berbuat salah. Tidak ada satupun orang sukses di dunia ini yang tanpa masalah dan tanpa melakukan kesalahan.

Read More

Tips Memilih Dokumentasi Pernikahan

Posted by on Jun 12, 2013 in Mindset | 0 comments

Pernikahan merupakan acaranya yang sakral, yang mungkin hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Untuk itu, pengabadian setiap momennya menjadi sangat penting.

Berikut ini beberapa tips yang dapat Anda ikuti dalam memilih dokumentasi, baik berupa foto maupun video, ketika menyiapkan pernikahan Anda :

1. Jangan mudah tergoda dengan harga murah dan cepatnya selesai

Dalam dunia seni, ada harga ada rupa sudah menjadi sebuah kewajaran. Ada yang menawarkan harga murah, tentunya Anda bisa berpikir bagaimana nanti jadinya.

Ada pula yang menjanjikan akan cepat selesai dalam 2 minggu. Wow… Cepat ya. Tapi sudah 6 bulan tak kunjung selesai :(


2. Jangan menggunakan jasa teman

Biasanya kalau yang mendokumentasikan adalah teman sendiri, meski dia memang penjual jasa dokumentasi, umumnya akan jadi tidak profesional.

Waktu penyelesaian akan diulur-ulur… Mungkin karena mereka menganggap kliennya adalah teman sendiri maka bisa dinomer duakan penyelesaiannya.

Alasan yang biasanya mereka gunakan : pekerjaan kantor lagi penuh nih… Leptop lagi dipinjam teman… Leptop kena virus… Percetakannya lagi overload nih… Fotonya sudah jadi, tapi masih dipinjam teman nih… Sabar ya, tinggal dicetak saja kok (tapi 3 bulan berlalu ga jadi-jadi).

3. Jangan memberikan DP terlalu besar

Sebaiknya jangan memberikan DP lebih dari 20%. Seperti yang sudah saya tulis di artikel sebelumnya, jika Anda memberikan DP terlalu besar, maka beberapa penjual jasa akan seenaknya sendiri mengulur-ulur waktu. Hal itu karena mereka merasa bahwa uangnya sudah mereka pegang.

4. Jangan menggunakan freelance, apalagi one man

Momen penting harus diabadikan oleh fotografer dan videografer profesional. Jangan buang-buang emosi, waktu dan uang dengan mempercayakannya pada freelance yang kualitasnya belum tentu bagus.

5. Ikat dengan perjanjian secara tertulis

Anda harus meminta mereka untuk menuliskan surat pernyataan bahwa : mereka akan menyelesaikan tepat pada waktu yang disepakati.. Dan jika tidak selesai tepat waktu, maka sisa pembayaran tidak perlu dilunasi atau uang DP dikembalikan seluruhnya. File master harus diberikan semuanya.

Suruh mereka tanda tangan diatas meterai, biar mereka memegang komitmennya.

6. Segera minta file master foto dan video setelah selesai acara

Setelah acara selesai, minta mereka untuk menyerahkan file mentahnya. Hal ini agar Anda punya back up untuk antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Anda bisa mengkopi ke harddisk external maupun DVD.

Read More

Pentingnya Quality Control

Posted by on Jun 10, 2013 in Kuliner | 0 comments

Kemarin saya benar-benar kecewa saat membeli makan di sebuah resto yang ada di sebuah mall di kediri. Masalahnya adalah ketika saya memesan makanan dari jam setengah sembilan malam, tapi sampai restonya tutup jam 9 malam masih belum dilayani.

Saya pesan bihun goreng waktu itu. Setelah dihantar, ternyata rasanya sangat hambar, seperti tidak diberi bumbu sama sekali. Asin juga engga.

Saya komplain, dan pelayannya minta ijin untuk diganti. Tapi apa boleh buat, hati sudah jengkel. Ya sudah, akhirnya langsung cabut tanpa memakannya sampai habis.

Beberapa kali makan di situ memang kadang rasanya ga konsisten. Kadang enak, kadang asin, kadang hambar.

Sepertinya hal ini karena tidak adanya Quality Control. Saya lihat memang tidak ada manager resto. Yang ada cuma pelayan yang posturnya kecil-kecil.

Ya sudahlah, mungkin itu untuk terakhir kalinya beli di situ. Lagian selain bikin kantong bolong, juga ga baik buat kesehatan.

Read More

No Money No Friends ?

Posted by on Apr 14, 2013 in Wirausaha | 0 comments

Seorang customer meminta saya untuk mengaktifkan orderan terlebih dahulu. Dia bilang “buru – buru, nanti saya transfer bersamaan dengan pembelian berikutnya”. 1 bulan berlalu, tapi tidak ada kabar kapan akan dibayar. Dan tiba-tiba order lagi serta meminta dibuatkan invoice jadi satu dengan yang sebelumnya. 1 bulan berlalu, tidak ada kabar juga tentang pembayaran invoice tersebut.

Sedikit kesel lalu saya tanya “kapan mau dilunasi?”. Katanya akan dilunasi tanggal sekian. Setelah deadline berlalu, tidak ada kabar juga. Di bbm juga tidak dibalas. Akhirnya servicenya saya matikan.

Setelah dimatikan, baru deh komplain “kok disuspend sih? Emang no money no friends!”.

Sebagai seorang profesional yg mengeluarkan cost dan effort utk setiap pekerjaan maupun layanan, cashflow harus tetap jalan. Sekalipun itu customernya adalah teman sendiri, harus tetap tegas dengan kasih.

Membiasakan untuk disiplin itu penting!

No Money No Service

Read More

Maksimalkan yg sudah ada

Posted by on Apr 7, 2013 in Wirausaha | 0 comments

Seringkali ketika kita sudah memiliki usaha atau bisnis, kita tergoda untuk mencari peluang lain. Godaan itu muncul ketika omset usaha mengalami stagnasi maupun kita sudah mulai bosan.

Rasa bosan itu sangat manusiawi terjadi. Bagaimana tidak bosan kalau kita selalu melakukan hal yang itu itu saja.

Kalau kita memulai usaha baru, tentu saja kita harus memulai semuanya dari nol jika kita tidak membeli sistem yang sudah jadi dan terbukti berhasil. Mulai dari riset, permodalan, tim, marketing dll. Kecuali mungkin kalau kita hanya menanam modal saja sedangkan orang lain yang menjalankannya.

Kita tidak bisa mengharapkan hasil yang berbeda jika dilakukan dengan cara yang sama. Harus ada riset terus menerus agar hasilnya terus meningkat.

Memaksimalkan apa yang sudah dijalankan tentu jauh lebih mudah ketimbang memulai usaha baru. Hal ini sama saja halnya dengan menjual ke pembeli lama jauh lebih mudah ketimbang mencari pembeli baru.

Read More

Setiap orang selalu ingin “diwongke”

Posted by on Apr 4, 2013 in Relationship | 0 comments

Ada sebuah bus jurusan surabaya – banyuwangi. Seperti biasa bus antar kota tersebut selalu full musik. Tapi ada yang membuat heran dan kagum yaitu ketika sang sopir mengecilkan suara musiknya tatkala ada seorang penumpang yg tengah menerima telfon. Sopir dan kru menaruh rasa “respek” thd penumpangnya. Rupanya ini sudah menjadi kebiasaan mereka. Dan inilah yg membuat para penumpang jadi setia.

Siapa sih yang tidak ingin dihormati atau diwongke (bahasa jawa = dimanusiakan) ?

Ketika sedang ada tamu di kantor, apakah anda akan mengangkat telfon lalu berbicara keras-keras di depan tamu? Atau yang lebih parah lagi adalah merokok di depan mereka?

Respek adalah hal yang harus dilakukan oleh setiap orang agar merekapun akan mendapat respek pula. Hal ini harus didoktrinasi kepada setiap karyawan dalam memperlakukan klien. Tanpa disadari sebenarnya ini adalah kegiatan marketing yang ampuh dengan cost yang sangat kecil.

Tahan dulu emosi anda ketika menghadapi pembeli yang bawel. Tetap hormati dan hargai mereka dengan mengatakan “maaf” dan “terima kasih atas masukannya”.

Read More

Orang itu yang dipegang adalah omongannya

Posted by on Apr 2, 2013 in Wirausaha | 0 comments

Malam ini ketika saya membantu suami melayani pelanggan, ada hal yang mengingatkan kami bahwa setiap apa yang kita katakan itu merupakan sebuah “janji”, bukan omong kosong belaka.

Pelanggan itu meminta kami untuk mengecek webnya. Dikarenakan suami sedang sibuk, maka kami bilang bahwa jam 10 malam baru kami bisa bantu. Dan pelanggan itu bilang : “baik, saya tunggu janjinya”.

Mendadak kami terperangah “wow, janji ? Siapa yang bilang janji? Kita tadi kan tidak bilang pasti jam 10 ? Bisa jadi lebih dari jam itu”. Kami merenung sesaat. Oh iya, kami diingatkan lagi bahwa setiap omongan jangan “sia-sia” dikatakan, tapi harus ditepati.

Saya bersyukur diingatkan kembali tentang hati-hati dalam setiap perkataan. Sekali kita tidak bisa menepatinya, maka berkurang sudah kepercayaan orang terhadap kita.

Hal ini juga sering saya alami ketika menjadi customer. Baru-baru ini saja ada seorang marketing perumahan yang tidak bisa memegang omongannya. Beliau mengatakan bahwa beliau tidak akan mengecewakan customer dengan menyerahkan kavling yang dijual itu ke orang lain. Tapi ternyata belum juga fix harga upgrade bangunannya diserahkan ke kami, kavling tersebut sudah diserahkan ke pembeli yang lain.

Rasa kecewa memang berkecamuk. Tapi saya sudah rasa dari awal memang hal ini sangat mungkin terjadi. Seharusnya marketing tersebut mengatakan bahwa agar tidak diambil pembeli yang lain, maka kami harus membayar booking fee. Tapi beliau tidak mengatakan demikian. Beliau mengatakan bahwa harus memberi uang muka tanda jadi (deal) dulu. Padahal harga upgrade belum fix, bagaimana memberi tanda jadi?

Ah tapi tidak mengapa. Saya sangat paham akan kejadian seperti akan pasti terjadi.

Hal lain juga pernah terjadi dengan sebuah penjual jasa. Beliau mengatakan bahwa paling lambat 1 bulan jadi. Tapi ketika 1 bulan berlalu, beliau mengatakan bahwa sedang sibuk karena keluarga dari luar negeri sedang datang. Sehingga diusahakan 1 bulan ke depan akan jadi. 1 bulan berlalu ternyata belum jadi juga. Beliau beralasan bahwa baru saja kecelakaan. Akhirnya diminta deadline, tapi beliau tidak bisa memberikan deadline. Hmmm

Kalau memang tidak bisa menyelesaikan, harusnya bilang saja daripada harus berkelit terus. Saya sebagai kustomer sudah berusaha menahan diri agar tidak bawel serta berusaha memahami permasalahannya.

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kepercayaan bisa hancur gara-gara ingkar janji. Pintu maaf selalu ada, tapi mungkin tidak bisa bekerjasama lagi.

Kesimpulannya : pegang perkataan Anda, jangan hanya membual.

Read More