Esok Kan Kujelang

Posted by on Nov 19, 2015 in Mindset, Wirausaha | 0 comments

Esok Kan Kujelang

Sebagai seorang pebisnis online. saya sudah cukup bersyukur sekali dengan income yang saya dapat setiap bulannya. Namun, semakin lama, bukanya semakin tenang, tapi terkadang semakin kuatir… Yes, saya semakin kuatir karena masalah demi masalah membuat saya harus belajar banyak ilmu-ilmu baru.

Saya tipe orang yang sensitif dan mudah curiga sama orang. Suatu ketika saya dapat pembantu rumah tangga (pembantu ketiga). Saya curiga kalau orang ini mau apa-apa. Tapi seperti ada yang berkata : “Serahkan kekuatiranmu pada Tuhan.. Bukankah hidupmu ini milikNya?”. Seketika itu kekuatiran saya mulai memudar, meskipun jujur saja masih ada sedikit was-was.

Yes, hidup ini cuma sementara. Jangan habiskan sisa waktu kita hanya takut diapa-apakan oleh orang lain. Percayakan semua itu pada Tuhan. Tetaplah rendah hati dan bersandarlah pada kekuatanNya.

Read More

No Money No Friends ?

Posted by on Apr 14, 2013 in Wirausaha | 0 comments

Seorang customer meminta saya untuk mengaktifkan orderan terlebih dahulu. Dia bilang “buru – buru, nanti saya transfer bersamaan dengan pembelian berikutnya”. 1 bulan berlalu, tapi tidak ada kabar kapan akan dibayar. Dan tiba-tiba order lagi serta meminta dibuatkan invoice jadi satu dengan yang sebelumnya. 1 bulan berlalu, tidak ada kabar juga tentang pembayaran invoice tersebut.

Sedikit kesel lalu saya tanya “kapan mau dilunasi?”. Katanya akan dilunasi tanggal sekian. Setelah deadline berlalu, tidak ada kabar juga. Di bbm juga tidak dibalas. Akhirnya servicenya saya matikan.

Setelah dimatikan, baru deh komplain “kok disuspend sih? Emang no money no friends!”.

Sebagai seorang profesional yg mengeluarkan cost dan effort utk setiap pekerjaan maupun layanan, cashflow harus tetap jalan. Sekalipun itu customernya adalah teman sendiri, harus tetap tegas dengan kasih.

Membiasakan untuk disiplin itu penting!

No Money No Service

Read More

Maksimalkan yg sudah ada

Posted by on Apr 7, 2013 in Wirausaha | 0 comments

Seringkali ketika kita sudah memiliki usaha atau bisnis, kita tergoda untuk mencari peluang lain. Godaan itu muncul ketika omset usaha mengalami stagnasi maupun kita sudah mulai bosan.

Rasa bosan itu sangat manusiawi terjadi. Bagaimana tidak bosan kalau kita selalu melakukan hal yang itu itu saja.

Kalau kita memulai usaha baru, tentu saja kita harus memulai semuanya dari nol jika kita tidak membeli sistem yang sudah jadi dan terbukti berhasil. Mulai dari riset, permodalan, tim, marketing dll. Kecuali mungkin kalau kita hanya menanam modal saja sedangkan orang lain yang menjalankannya.

Kita tidak bisa mengharapkan hasil yang berbeda jika dilakukan dengan cara yang sama. Harus ada riset terus menerus agar hasilnya terus meningkat.

Memaksimalkan apa yang sudah dijalankan tentu jauh lebih mudah ketimbang memulai usaha baru. Hal ini sama saja halnya dengan menjual ke pembeli lama jauh lebih mudah ketimbang mencari pembeli baru.

Read More

Orang itu yang dipegang adalah omongannya

Posted by on Apr 2, 2013 in Wirausaha | 0 comments

Malam ini ketika saya membantu suami melayani pelanggan, ada hal yang mengingatkan kami bahwa setiap apa yang kita katakan itu merupakan sebuah “janji”, bukan omong kosong belaka.

Pelanggan itu meminta kami untuk mengecek webnya. Dikarenakan suami sedang sibuk, maka kami bilang bahwa jam 10 malam baru kami bisa bantu. Dan pelanggan itu bilang : “baik, saya tunggu janjinya”.

Mendadak kami terperangah “wow, janji ? Siapa yang bilang janji? Kita tadi kan tidak bilang pasti jam 10 ? Bisa jadi lebih dari jam itu”. Kami merenung sesaat. Oh iya, kami diingatkan lagi bahwa setiap omongan jangan “sia-sia” dikatakan, tapi harus ditepati.

Saya bersyukur diingatkan kembali tentang hati-hati dalam setiap perkataan. Sekali kita tidak bisa menepatinya, maka berkurang sudah kepercayaan orang terhadap kita.

Hal ini juga sering saya alami ketika menjadi customer. Baru-baru ini saja ada seorang marketing perumahan yang tidak bisa memegang omongannya. Beliau mengatakan bahwa beliau tidak akan mengecewakan customer dengan menyerahkan kavling yang dijual itu ke orang lain. Tapi ternyata belum juga fix harga upgrade bangunannya diserahkan ke kami, kavling tersebut sudah diserahkan ke pembeli yang lain.

Rasa kecewa memang berkecamuk. Tapi saya sudah rasa dari awal memang hal ini sangat mungkin terjadi. Seharusnya marketing tersebut mengatakan bahwa agar tidak diambil pembeli yang lain, maka kami harus membayar booking fee. Tapi beliau tidak mengatakan demikian. Beliau mengatakan bahwa harus memberi uang muka tanda jadi (deal) dulu. Padahal harga upgrade belum fix, bagaimana memberi tanda jadi?

Ah tapi tidak mengapa. Saya sangat paham akan kejadian seperti akan pasti terjadi.

Hal lain juga pernah terjadi dengan sebuah penjual jasa. Beliau mengatakan bahwa paling lambat 1 bulan jadi. Tapi ketika 1 bulan berlalu, beliau mengatakan bahwa sedang sibuk karena keluarga dari luar negeri sedang datang. Sehingga diusahakan 1 bulan ke depan akan jadi. 1 bulan berlalu ternyata belum jadi juga. Beliau beralasan bahwa baru saja kecelakaan. Akhirnya diminta deadline, tapi beliau tidak bisa memberikan deadline. Hmmm

Kalau memang tidak bisa menyelesaikan, harusnya bilang saja daripada harus berkelit terus. Saya sebagai kustomer sudah berusaha menahan diri agar tidak bawel serta berusaha memahami permasalahannya.

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kepercayaan bisa hancur gara-gara ingkar janji. Pintu maaf selalu ada, tapi mungkin tidak bisa bekerjasama lagi.

Kesimpulannya : pegang perkataan Anda, jangan hanya membual.

Incoming search terms:

Read More

Jangan pernah memberi DP terlalu besar

Posted by on Jan 19, 2013 in Wirausaha | 2 comments

Beberapa waktu lalu saya berjumpa dengan seorang pengusaha jasa desain. Beliau menuturkan bahwa trik untuk mengikat customer adalah dengan menggunakan DP (down payment atau uang muka). Jika customer berani mengasi DP besar, itu artinya dia percaya sepenuhnya pada kita. Sama halnya juga ketika customer tidak menawar harga yang kita kasi, itu artinya dia sudah terikat.

Nah, ketika DP yang diberikan besar (lebih dari 30%) maka dengan mudah si pengusaha tersebut “meremehkan” pekerjaannya untuk customer. Misalnya dengan mengulur-ulur waktu pengerjaan dengan berbagai alasan. Waktu penguluran itulah yang akan dia gunakan untuk mengerjakan pesanan customer yang memberikan DP kecil, supaya cepat selesai dan cepat dapat bayaran.

Oh ternyata hampir banyak freelance maupun profesional yang melakukan itu. Dan seringkali juga saya menjadi korbannya.

Customer memberikan DP yang besar ke penjual dengan harapan supaya hasilnya bagus dan cepat dikerjakan. Tapi tidak jarang malah customer dipermainkan dengan penguluran waktu, bahasa jawanya “mbleset” atau “ingkar janji”. Alasannya macam-macam, mulai : kecelakaan, banyak orderan, komputer rusak, ada keluarga yang sakit dll.

So guys, jangan pernah memberikan DP terlalu besar, kecuali jika terbukti bahwa penjual tersebut benar-benar profesional dan bertanggungjawab.

Read More

Zona Abu-Abu

Posted by on May 17, 2012 in Wirausaha | 0 comments

Teman, dalam bisnis terkadang ada yang namanya zona abu-abu. Kita menyadari akan adanya zona abu-abu tersebut, tetapi sulit untuk melepaskannya.

Apa zona abu-abu itu ?

Adalah zona di mana ketidakjujuran ada di dalamnya. Contohnya : main suap supaya urusan cepat selesai, ukuran timbangan dibesar-besarkan, menggunakan bahan produksi yang membahayakan tubuh manusia, dlsb. Intinya : just to get high profit, cara apapun akan dilakukan termasuk yang abu-abu seperti ini.

Karena termotivasi ingin cepat kaya, maka siapapun bisa menghalalkan segala cara. Cara apapun akan ditempuh supaya cepat kaya, cepat naik jabatan dll. Dan sampai kapanpun tidak akan pernah merasa puas karena selalu merasa kekurangan dan haus akan harta benda dan jabatan.

Malam hari ini saya melihat sebuah film di bioskop yang berjudul “5 Days War”. Film ini menceritakan tentang beberapa orang wartawan perang yang tengah meliput perang antara rusia dan georgia. Ada satu hal yang menyeletuk saya adalah ketika seorang wartawan tertangkap dan dihadapkan dengan komandan dari tentara bayaran. Saat itu mereka berdua sedang bermain catur, dan si komandan menceritakan detail kehidupan sang wartawan, mulai si wartawan yang mengubur keluarganya dll.

Apa relevansi kisah itu dengan zona abu-abu ?

Kita tahu bahwa suatu saat nanti akan ada sebuah pengadilan terakhir dimana semua hal yang kita lakukan akan terkuak semuanya dan tidak bisa ditutup-tutupi. Semua perbuatan kita akan ditampilkan dalam sebuah layar, dan kita akan menyesali semua perbuatan yang tidak layak dan tidak pantas untuk kita lakukan. Termasuk perbuatan di zona abu-abu! Kita meratap, menangis, kenapa harus terjadi hal seperti itu.

Waktunya belum terlambat untuk berubah. Kita masih diberi kesempatan saat ini bukan untuk disia-siakan. Sadarkah bahwa ada mata di sekeliling kita yang selalu merekam perbuatan kita?

Sejak kapan kita belajar untuk berbohong? Yupz betul… sejak saat kecil kita sudah belajar berbohong. Belajar untuk mencontek dan membuka catatan kecil saat ujian. Hal inilah biang dari korupsi di segala bidang.

Memang tidak ada manusia yang sempurna. Setiap hari kita selalu jatuh dan bangun dalam perbuatan hina. Tapi kita bisa melatih diri kita untuk terbiasa hidup dalam kejujuran. Tentunya tidak instant, tapi step by step mulai dibenahi dari sekarang. Intropeksi diri.

Kita semua pasti mau kan ketika slide kehidupan kita nanti saat diputar semuanya indah ? Maka berjalanlah di jalan yang lurus. Jalan yang tidak bengkok. Jalan di mana kejujuran dan integritas dijunjung tinggi.

Incoming search terms:

Read More